Senyum Dalam Ceruk

Sekar adalah seorang anak kecil berusia lima tahun. Ia anak yang sangat lincah dan ramah. Senyum hampir selalu terkembang di wajahnya saban hari. Wajah bulat sawo matang itu selalu sumringah kecuali pada saat ia tertidur.  Layaknya anak berusia lima tahun pada umumnya, Sekar pun tidak lepas dari egonya  yang masih tinggi. Ia akan ngambek apabila keinginannya tidak dituruti oleh orang tuanya. Bibirnya akan manyun, kedua tangan dilipat di depan dada dan ia akan segera menangis sambil berlari menuju kamarnya dengan tambahan pintu yang dibanting saat ditutup. Namun, dibalik semua perangainya sebagai anak-anak, kembali, Sekar adalah anak perempuan yang berusia lima tahun dengan segala kepolosan hati dan pikirannya.

Suatu pagi yang cerah, Sekar sudah sibuk memasukkan brang-barang pribadi miliknnya ke dalam mobil dibantu oleh ayah dan ibunya. Sekar akan pergi berlibur ke pantai untuk menghabiskan waktu akhir pekannya. Ayah Sekar memang sudah berjanji untuk mengajaknya berlibur di pantai.

“Ayah, hari ini kita akan ke pantai kan, Yah?”

“Iya, Kar.” Ucap sang ayah sambil mengusap lembut kepala Sekar.

Sekar yang sangat antusias dengan keberangkatannya pagi itu, segera memastikan bahwa segala barang pribadi miliknya, yang hampir sebagian besar adalah mainan, sudah dimasukkan ke bagian belakang mobil. Setelah semua siap, mobil pun dinyalakan dan mulai bergerak memulai perjalannya menuju pantai.

Perjalanan tidak jauh untuk ditempuh. Hanya sekitar tiga puluh menit tanpa ada kemacetan yang berarti di akhir pekan itu, Sekar dan keluarga telah tiba di pantai tujuan. Setelah memarkirkan mobil pada tempat parkir yang telah disediakan, Sekar segera membuka pintu mobil dan membantu untuk menurunkan beberapa barang pribadinya dari belakang mobil, sementara ayah dan ibunya menurunkan barang-barang lainnya yang akan digunakan untuk tamasya.

Pagi itu pantai masih sepi dan belum banyak pengunjung yang berdatangan, apabila menjelang sore maka barulah pantai mulai dipenuhi pengunjung yang ingin menikmati suasana matahari terbenam. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang bersama keluarganya untuk menikmati suasana pantai pagi itu. Cakrawala nan luas biru membentang, awan putih yang bergerombol padat, suara debur ombak yang kian bersahutan saling balap, butiran pasir lembut yang menggisik telapak kaki, serta angin laut yang menghantam tubuh para wisatawan yang datang, seakan menjadi hiburan tersendiri  untuk menghilangkan sejenak kepenatan pikiran dari kesibukan sehari-hari.

Saat ayah dan ibunya sedang sibuk menata barang yang dibawa pada salah satu payung pantai yang tersedia untuk disewakan, Sekar sudah asik dengan peralatan permainan pasirnya. Ia asik membangun istana pasir yang dalam sekejap akan kembali disapu oleh ombak. Merasa kesal, Sekar memutuskan untuk membuat suatu parit disekitar bangunan istana yang akan dibangunnya. Ditengah penggaliannya yang mengasyikan, ayah Sekar mengahmpirinya.

“Sekar, kamu sedang ngapain?”

“Lagi buat parit, Yah.”

“Loh, buat apa?” tanya ayahnya sambil berjongkok untuk lebih dekat dengan anaknya.

“Buat masukin air lautnya ke parit, jadi airnnya nggak ngancurin istana aku lagi. Aku udah bikin capek-capek, eh kena ombak ancur lagi. Kesel.”

Melihat apa yang dilakukan anaknya, ayahnya pun dengan gembira ikut membantu anaknya. Memang ia tahu apa yang dilakukannya adalah hal sia-sia, tetapi toh ia tetap gembira melakukannya. Dalam benaknya ia pun berucap, sedalam apapun kau menggali nak, kau tidak akan pernah mampu memasukkan lautan ke dalam ceruk ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: