Hakikat Bahagia

Pernahkah kalian menunggu balasan pesan dari seseorang yang sangat spesial? Bagaimana rasanya? Aku yakin pasti rasanya gak keruan kan? Deg-degan, nggak sabar, dan segala macam rasanya bercampur aduk mesti. Apalagi kalau sudah dibalas, rasanya tuh… macam-macam lagi, tergantung respon balasan chat nya kan? Hahaha…

Hal tersebut adalah pengandaian dari apa yang aku alami selama satu semester ini. Bukan aku menunggu balasan chat seseorang, melainkan aku menunggu balasan revisi dari dosen penguji dan dosen pembimbing kerja praktikku. Apabila teman-teman membaca beberapa artikelku yang sebelumnya, aku sempat beberapa kali mem-posting tulisanku tentang pengalaman kerja praktik sampai aku berhasil menyelesaikan ujian kerja praktikku pada tanggal 17 April 2017 yang lalu. Nah, setelah menyelesaikan ujian kerja praktik, tidak cukup sampai situ perjuangannya, aku masih harus tetap menyelesaikan segala revisian kerja praktik yang diberikan, baik oleh dosen penguji dan dosen pembimbing.

Tidak seperti beberapa temanku yang menyelesaikan revisian dengan cepat karena memang dosen pengujinya tidak memberikan revisian yang banyak, dosen pengujiku cukup memberikan banyak revisian. Revisian minor memang, lebih banyak revisi terhadap format penulisan laporan yang keliru. Aku pun tidak paham kenapa dosen pengujiku sangat ngotot setiap tabel yang disajikan dalam laporanku harus sekali dijadikan satu halaman. SANGAT INGIN! Nggak paham lagi deh kenapa… Dosen, bebas. Padahal tabel yang tersaji sangat panjang, tetapi beliau tetap memaksa untuk jadi satu halaman. Hahaha… duh Pak. Tidak sampai situ aja yang cukup njengkelin adalah aku sama-sama menyajikan tabel yang sama persis dengan teman kerja praktikku, tetapi yang kena revisian format tabel hanya aku. LOL sekali memang. Sekali lagi, namanya juga dosen, BEBAS.

Aku mengalami sebanyak tiga kali revisian dengan dosen pengujiku, sementara dosen pembimbingku tidak memeberikan revisian sama sekali. Aku cukup bersyukur akan hal itu, walaupun dosen pembimbingku termasuk dosen yang mengerikan karena sikapnya yang dingin pada mahasiswa. anyway makasih ya Pak hehehe…

Sebenarnya, bukannya aku ingin mengajarkan hal yang tidak baik pada teman-teman, tapi yang terjadi di lapangan kenyataannya adalah beberapa dosen bahkan tidak ingat bahwa beliau-beliau pernah menguji mahasiswanya, sehingga otomatis beliau pun tidak akan ingat revisian apa yang diberikan kepada mahasiswanya. Mamanfaatkan hal demikian, aku pun akhirnya menghilangkan beberapa bagian dalam penulisan laporanku yang seharunya dibuktikan, tetapi karena tidak memungkinkan akan pembuktian maka lebih baik aku hilangkan bagian tersebu. It’s fine kok. Hanya saja, apabila ada yang dapat aku buktikan, biasanya akan aku tambahkan data pembuktian, tetapi kalau sudah sangat mentok maka lebih baik dihilangkan daripada berbuntut revisian yang lebih panjang. Kalau dipikir-pikir memang cukup curang, tetapi hal tersebut kadang diperlukan sebagai cara cerdik mengingat waktu revisian yang terbatas dan keterbatasan data yang tersedia. Jadi,cerdik-cerdiklah bermain dengan tulisan teman-teman semua.

Perjuangan menulis revisian kerja praktik memang tidak sesulit menulis skripsi, tetapi tidak juga semudah menuliskan laporan praktikum. Kalau ditanya apakah berat, jawabanku adalah tidak. Namun, kalau ditanya apakah melelahkan? Iya. Bukan lelah karena berpikir, tetapi lelah karena beban mental. Bertemu dosen penguji dan menunggu revisian cukup menguras emosi, belum lagi kalau ditanya-tanya tentang revisian yang sudah ditulis. Tidak jarang kita akan mengalami ujian kerja praktik lagi di dalam bimbingan revisian tersebut, bahkan cenderung lebih mengerikan. Haduh. itulah kenyataan yang terjadi. Belum lagi berbagai tipe dosen yang banyal sekali maunya. Ah… akan jadi persoalan tersendiri dalam menyelesaikan revisian kerja praktik. Biasanya kalau sudah begitu, mahasiswa akan update dengan status, “PAK BUK KAPAN ACC NYA?” Nah, pasti itu!

Janji bertemu dosen jam berapa, dosen datang ke ruangan jam berapa. Bagi mahasiswa-mahasiswa tua seperti aku dan teman-teman lain, sudah pasti paham akan hal ini. Dosen kayaknya akan mengalahkan pejabat penting deh kalau sudah urusan janjian bimbingan dengan mahasiswa. Segudang aktivitas yang dimiliki akan membuat beliau seakan enggan bertemu mahasiswa bimbingannya. Bukan aku memandang dosen secara negatif atau bermaksud menjelek-jelekan beliau, tetapi itulah yang terjadi. Sudah ditunggu seharian di depan ruangannya, tetapi ternyata dosennya tidak masuk. Klasik. Sudah skip kelas kuliah seharian, ternyata upaya bertemu dosen nihil. Sudah ditunggu lama di depan ruangan, ketika ditinggal beli makanan di kantin, dosennya datang dan bertemu dengan mahasiswa lain yang datangnya tidak lebih pagi dari kita. Basic.

Perjuangan yang seperti itulah yang membuat lelah mental. Mahasiswa ingin dengan cepat menyelesaikan laporannya, tetapi dosen yang bersangkutan cukup “memperlama” proses yang ada. Oke mungkin di poin ini, dosen memiliki segudang aktivitas di luar mengajar dan bimbingan ya, but ya kan kita dituntut cepat juga Pak, Bu.

Tidak jarang, aku pun mengalami kejenuhan selama mengerjakan revisian, semangat yang menurun, kesepian, dan rasa lelah yang tida terdefinisikan membuat emosi tidak keruan dan naik turun. Berbahagialah teman-teman yang memiliki seseorang sebagai “bantalan” emosi saat problematika revisian menghadang. Namun, bagi teman-teman, termasuk diriku, yang harus berjuang sendiri mengontrol emosi dan tidak memiliki “bantalan” dalam menghadapi problematika revisan, aku paham kondisi itu seperti apa. Perjuangan yang dialami memang akan terasa lebih berat apabila tidak ada yang menyemangati.

Teman memang mampu memberikan semangat, tetapi sampai sejauh mana teman dapat menegerti kelelahan yang dirasakan? Belum lagi, teman pun memiliki problematika sendiri dalam hidupnya, bukan? Apakah kita akan tega dengan menambah beban teman kita dengan cerita beban yang dialami? Aku pribadi, tidak akan tega untuk berbagi beban dengan temanku, aku biasanya akan mengajak teman untuk bermain keluar dan menghibur diri. Tetapi sensaasi kesenangannya akan terasa hanya sebentar saja, sampai aku harus kembali berhadapan dengan layar laptop dan barisan kalimat yang tertera dalam laporan kerja praktikku.

Keluarga dapat menjadi jawaban untuk mengatasi kejenuhan memang, tetapi yang menjadi masalah bagi anak rantauan adalah ketidakenakannya untuk bercerita pada keluarga akan beban perkuliahan yang dihadapi. Perasaan tidak enak tiba-tiba saja akan muncul. Tidak perlulah bercerita pada orang tua akan masalah ini, aku toh sudah besar, masakan tidak dapat menghadapinya dengan mandiri? Padahal sebetulnya, memang kita tidak dapat menghadapinya secara seutuhnya mandiri, kita akan tetapi butuh orang lain untuk membagi beban kita. Kadang, teman pun tidak akan cukup untuk menyemangati. Kalau sudah begini, jawabannya adalah berdoa memang. Tidak lain dan tidak bukan adalah curhat dengan Si Bos Besar.

Akhirnya, penantian dan perjuanganku pun tidak berjalan sia-sia. Pada Senin 29 Mei 2017, dosen pembimbingku meng-ACC laporan kerja praktikku dan siap untuk dijilid. YAY!! Rasanya sangat tidak keruan ketika melihat ada tulisan “OKE” terpampang di halaman cover, SENANGNYA!!! Ingin sekali aku bersorak di dalam ruangan dosen pembimbingku, tetapi aku urungkan. “Jangan-jangan nanti ACC nya dibatalkan.” bisikku dalam hati. Jadi, akhirnya aku hanya menyunggingkan senyum simpul dengan sejuta arti. Terima kasih Pak, terima kasih teman-teman, terima kasih semua…

Jogja, 01 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: