Ramadhan Pertama

Bulan ini menjadi bulan yang istimewa bagi sebagian warga negara Indonesia. Bagaimana tidak, dalam bulan inilah bulan suci Ramadhan berada. Oleh karena Indonesia adalah negara terpadat penduduk di dunia dengan peringkat ketiga dan mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam, hal ini menjadikan Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Hal tersebut tentunya membuat suasana puasa di bulan Ramadhan sangat kental terasa di negeri ini, tidak terkecuali dalam lingkup pertemananku. Menjalani kehidupan sosial dalam kampus negeri yang mayoritasnya beragama Muslim, membuat suasana Ramadhan sangat kental di antara pertemananku.Bagiku, tidaklah menjadi sebuah masalah apabila untuk bertoleransi pada teman-temanku yang sedang menjalankan ibadah puasanya dengan tidak makan dan minum di sembarang tempat, karena memang begitulah seharusnnya terjadi. Perwujudan toleransi dan tenggang rasa harus terjadi dalam negeri yang sangat mengkhawatirkan dalam tingkat bertoleransi. Seakan semboyan Bhinekka Tunggal Ika hanya sebatas semboyan yang tertera di kaki lambang negara.

Apabila pada tahun-tahun sebelumnya aku tidak ikut berpuasa,tahun cukup berbeda bagiku. Pada Ramadhan tahun ini, aku membulatkan tekad ku untuk menghormati teman-temanku dengan ikut serta berpuasa. Itulah sebabnya, aku menyebutnya sebagai Ramadhan pertama. Aku bukanlah Muslim dan bukan ula mualaf, aku lahir dan besar dalam keluarga Nasrani yang boleh dibilang cukup menekankan keimanan Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya aku sangat bersyukur karena melalui penanaman nilai-nilai kristiani oleh keluargaku, akupun terbentuk menjadi pribadi yang terbuka dan membuatku mampu menerima serta beradaptasi dengan segala perbedaan yang ada di sekelilingku. Menerima perbedaan dengan kasih Kristus.

Selain itu, memiliki kakek yang adalah seorang veteran perang mengajarkanku untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupanku baik secara langsung maupun tidak langsung. Aku pribadi sangat concern terhadap isu sensitif yang sedang gencar berhembus didalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Isu tentang “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan semboyan negeri “Bhinekka Tunggal Ika”, yang kian waktu semakin mengkhawatirkan, di mana begitu rentannya negeri ini untuk dipecah-belah dengan perbedaan yang ada di dalamnya. Ironis memang, di saat Founding Father negeri ini dengan gigih berjuang untuk berusaha untuk memerdekakan dan mempersatukan bangsa ini, kini generasi penerusnya malahan berusaha untuk memecah-belah persatuan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Entahlah, aku hanya berpikir, mengapa generasi penerus bangsa ini tidak dapat belajar dari sejarah yang mengajarkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Mengapa para Founding Father negara ini mengubah bunyi sila pertama menjadi KETUHANAN YANG MAHA ESA, bukankah demi persatuan dan perdamaian bangsa? Demi keberlangsungan kehidupan bangsa yang merdeka ini? Mengapa perlu diperbudak oleh isu-isu perbedaan yang memisah satu dengan lain? Bukankah para Founding Father juga umat beragama yang bersembahayang pada Sang Pemilik kehidupan?

Ah, tidak akan ada habisnya memang perdebatan mengenai perbedaan yang terjadi di negeri ini. Namun, di antara peliknya persoalan tentang isu agama yang terjadi di negeri ini, aku malahan memutuskan untuk turut menjalankan ibadah puasa bersama teman-temanku. Puasa memang bukan menjadi ritual salah satu agama saja, melainkan universal. Bagiku sebagai umat Nasrani, puasa adalah suatu bentuk tindakan iman, di mana umat dengan rendah hati datang ke hadirat Tuhan dengan mengosongkan diri dan mengakui segala keterbatasannya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dengan berpuasa, umat juga diajarkan untuk dapat  menahan segala hawa nafsu dunia yang selama ini menjerat atau menjadi kebiasaan yang mungkin menjauhkan diri umat dari Sang Pencipta. Melalui puasalah, umat dapat belajar untuk hidup dalam penghayatan perkabungan serta semakin menyadari dirinya bukanlah siapa-siapa bila tidak mendapatkan perkenanan kasih anugerah Allah. Dalam Alkitab pun banyak perikop yang menyatakan tindakan puasa yang dilakukan oleh tokoh Alkitab, bahkan Tuhan Yesus pun memberikan teladan berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam dalam hidup-Nya sebelum akhirnya Ia dicobai oleh iblis.

Aku pribadi menjalankan puasaku bukan semata-mata karena ingin menghormati teman-temanku yang berpuasa, melainkan aku ingin mencoba untuk berpuasa. Selama ini aku memang dilarang oleh ibu untuk berpuasa karena beliau mengkhawatirkan kesehatanku. Oleh karena itu aku sangat bersemangat menjalani puasa pertamaku dan sangat ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman.

Hal pertma yang aku rasa berkesan adalah aku dapat secara langsung merasakan apa yang dirasakan teman-temanku saat berpuasa; bagaimana menahan lapar ditengah kesibukan, menahan hasrat untuk makan gorengan yang baru saja matang dan tersaji di pinggir jalan, aroma nya… Bagimana menahan diri untuk tidak membuka tutup botol minum yang ada di atas meja belajar dan juga menahan untuk tidak sambat di jalan saat berkendara. Tetapi, aku pun akhirnya tahu bagaimana nikmatnya berbuka setelah seharian menahan segalanya, bagaimana aku bersyukur, aku paham.

Dalam menjalani puasa seharin ini pun, aku pun dapat belajar arti dari menunggu. Menunggu dalam hal apapun, termasuk dalam menunggu pasangan. Puasa pada hari pertamaku ternyata mampu memberikan pencerahan tentang salah satu pergumulan hati yang sedang terjadi padaku. Hidup tanpa kekasih memang terkadang membuat seseorang merasa sepi dan sedih. Namun tidak jarang bagi beberapa orang, hidup tanpa kekasih adalah hal yang biasa saja. Akan tetapi pasti ada saatnya setiap pribadi merindukan adaya pasangan dalam hidupnya yang entah hanya sebagai pacar ataukah sebagai teman hidupnya kelak, pasti waktu itu ada. Demikian pula diriku. Hidup merantau terkadang membuatku merasa sepi dan merasa butuh seorang pendamping yang dapat memerhatikanku lebih dari sekadar teman. Tetapi, kenyataan mengharuskanku untuk menjalani segalanya sendiri. Lelah memang terkadang. Beberapa kali pun aku bertanya pada Sang Pencipta akaan persoalan hati ini, apakah aku memang harus sendiri, apakah hidup bersama Allah adalah sangat cukup sampai aku tidak perlu memiliki seorang pasangan? Lantas untuk apa Allah menciptakan manusia berpasang-pasnagan apabila hidup bersama Allah saja sudah lebih dari cukup? Pertanyaan tersebut bergulir hingga akhirnya aku belajar dari puasaku. Selama ini aku mungkin sedang “berpuasa” dengan menjalani segala sesuatunya secara mandiri, belajar untuk memperbaiki diri demi menjadi pribadi yang semakin serupa Allah. Bukankah itu yang dilakukan orang-orang saat berpuasa, belajar untuk menahan segala nafsu dan belajar menjadi pribadi yang semakin disempurnakan oleh iman, hingga nanti ketika tiba waktu berbuka pasti akan ada kenikmatan yang indah yang tersedia bagiku.

Terakhir aku ingin berpendapat bahwa Islam itu indah. ya. harus kukatakan demikian. Melihat berbagai ritual keagamaan dan nilai-nilai yang didakwahkan membuat Islam menjadi indah dengan segaa nilai Islami yang ditanamkan bagi para pengikutnya. Aku pun sekalipun bukan seorang muslim, tetapi aku pun dapat merasakan keindahan tersebut. Daalam kehidupan sehari-hari ada begitu banyak keluarga Muslim di sekitarku yang memiliki kehidupan yang meneladan bagi sesamanya dan aku pun terkagum pada mereka. Aku yakin bahwa Islam bukanlah semengerikan berbagai teror ayng terjadi denagn mengatasnamakan Islam. Islam yang kupandang adalah mereka yang menerima perbedaan dengan tangan terbuka dan saling menghormati sebagai sesama ciptaan Tuhan sebagai bentuk amalan perbuatan baik di kehidupan sehari-hari.

Tulisan kali ini memang panjang dan terkesan sangat setimen dan priadi, tetapi aku hanya ingin berbagi kisah pada teman-teman semua. Akhir kata, aku ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman semua yang menjalaninya. Semoga kemenangan itu dapat disongsong bersama dengan sukacita. Kiranya kasih Tuhan besrtamu dan beserta kita semua. Tuhan memberkati.

Jogja, 29 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: