Mencuri Waktu

Kata siapa yang bisa dicuri hanya harta dan hati kamu, waktu juga bisa dicuri lho haha… Gak percaya?

Cheesy banget nggak sih kata-kata di atas? Ya tapi cukup lah ya buat jadi pembuka di tulisanku hari ini. Hari ini, adalah hari yang cukup aku tunggu-tunggu dalam beberapa waktu belakang ini. Kenapa? Karena aku hari ini memposting tulisanku bukan dari kamar kosanku di Jogja, tapi dari kamarku di Bekasi. Kamar asliku. Yeay!

Kalau boleh dibilang, kepulanganku ke Bekasi kali ini, cukup terbilang mendadak dan dramatis. Memang enggak dramatis-dramatis banget sih, hanya bisa dibilang sangat berbeda dari kepualnganku yang sebelum-sebelumnya yang selalu well prepared.

Rabu, 03 Mei 2017 adalah tanggal kepulanganku yang tercantum dalam tiket kereta api yang ayahku belikan dari jauh-jauh hari. Mengingat hari Minggu 07 Mei 2017, salah seorang tanteku akan melangsungkan pernikahan maka aku pun disediakan tiket untuk pulang dan menghadiri hajatan tersebut. Namun, apalah nyana, aku nggak bisa pulang tanggal tiga Mei lalu, karena memang ada beberapa urusan yang belum selesai. Tapi, Gusti Yesus memang baik ya.Keesokannya, Kamis 04 Mei 2017, dengan bantuan temanku aku bisa pulang ke Bekasi karena urusanku dibantu selesai olehnya. Tiba-tiba urusan revisian bisa diurus minggu selanjutnya dan membuatku bisa pulang ke Bekasi. Eits… tapi kan tiket keretanya sudah hangus maka aku harus membali tiket baru. Yup, lagi-lagi aku dibantu oleh temanku untuk memebli tiket kereta online. Big Thanks Uty!

Aku ingin sekali pulang. Melihat beberapa teman yang dengan mudahnya pulang karena rumahnya dekat dengan kampus, membuatku cukup iri. Beban mahasiswa yang hampir tua ini terasa semakin berat dipikul, ditambah status yang masih jomblo membuat hati semakin semakin sepi saja. Ah aku butuh kekuargaku…

Siang-siang, di tengah kebengongan aku di dalam kamar kosan aku berpikir untuk pulang karena urusan sudah selesai. Akan tetapi, sekalipun urusanku sudah selesai, aku masih harus menghadapi satu permasalahan lagi. Hari Senin aku belum bisa menghadiri kelas karena masih berada di perjalanan dari Jakarta. Nah, lantas bagaimana dengan absensiku yang terbilang mepet 75%? Ha… Ha… Ha…

Curi!

Curi waktu adalah koentji.

Memang rada berat untuk melakukannya, tetapi aku akui bahwa aku harus melakukannya. Perkaranya adalah hari Senin banyak sekali libur dan hingga saat ini belum ada kelas pengganti dari dosen pengampunya. Apabila jumlah tatap muka dari dosen kurang maka jatah absen bagi mahasiswa juga menipis. Ah aku kembali tertegun. Aku berpikir dan menimbang, jadikah aku pulang? Segera aku buka website rekapitulasi daftar kehadiranku dan yey… memang mepet. Aku butuh TA teman. He… he… he… maafkan teman, kalian harus mengetahu diriku yang tidak selamanya baik dan sempurna. Halah. Intinya aku butuh teman untuk melakukan tipsen alias titip absen. Jangan dicontoh.

Tapi pertanyaannya apakah aku malas? Hmm… Ya kuakui. Hanya ini sepenuhnya bukan salahku. Aku memiliki beberapa argumen pembenaran mengenai ketidakhadiranku di dalam kelas sehingga finally aku harus mencuri waktu. Keharusan melaksanakan kerja praktik di awal semster dan menjalankan ujian kerja praktik membuatku tidak hadir dalam pertemuan pembelajaran dalam kelas sebanyak 2 kali, di awal dan di pertengahan semester. Serta jumlah tatap muka dari dosen yang tidak sampai 14 kali membuatku kekurangan jumlah presensi.

Bagaimana kebijakannya? Apakah tidak bisa masuk dalam proses perijinan ke bagian akademik, bukankah aku tidak bolos?

Ha… Ha… Ha… lebih baik aku berbicara pada semut-semut rangrang di pohon mangga depan kamar kosanku dibanding mengurus perijinan pada bagian akademik fakultas yang penuh birokrasi dan berbelit serta hasilnya yang nihil.

Aku kurang mau berusaha?

Coba tanyakan pada seluruh umat fakultasku. Bagaimana hebatnya urusan perijinan dalam fakultasku yang amat istimewa itu. Oh Gusti…

(Tulisan ini bersifat provokatif dan membawa semangat yang tidak baik. Harap tidak mencontohnya, melainkan menghindarinya. Sebagai penerus bangsa, seyogyanyalah kita memandaatkan waktu yang ada dengan bijak dan sebaik-baiknya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: