Film itu tentang Tuhan

Minggu, 23 April 2017

Tepat pada hari ini, aku dan beberapa rekan guru sekolah mingguku mengadakan acara perayaan Paskah untuk sekolah minggu kami. Sebagai salah satu guru sekolah minggu, aku pun ikut turut terlibat didalamnya. Beberapa persiapan sebelum hari peryaan memang tidak dapat aku hadiri dengan pertimbangan beberapa kegiatan yang harus aku dahulukan, tetapi toh pada hari H, aku akhirnya dapat datang untuk ikut turut merayakan sukacita Paskah.

Dalam perayaan Paskah ini, aku merasakan betapa setiap manusia, termasuk diriku, terkadang perlu kembali mengalami masa kanak-kanak saat beranjak dewasa. Seiring usia yang semakin bertambah dan tanggung jawab yang begitu besar, terkadang membuat daya khayal dan pemikiran pun terbatas pada hal-hal serius dan berbau-bau masa depan, sampai melupakan sebuah “kesederhanaan”.

Masih segar dalam ingatanku saat aku terduduk di bangku kayu panjang dalam gereja, tubuhku bersandar pada sandaran kursi yang terbilang sangat tidak empuk itu, sambil termenung melihat cuplikan film kartun di layar yang tersorot proyektor. Film kartun yang biasa aku tonton di sekolah dasar saat pelajaran agama di ruang perpusatakaan, kisah tentang penyaliban Tuhan Yesus di kayu salib. Sederhana memang gambar yang ditampilkan, tidak ada gambar dramatisir yang biasa terlihat dalam film “The Passion of Christ”, semua masih divisualkan menurut umur penontonnya, anak-anak. Akan tetapi, sekalipun sederhana, aku dapat kembali merasakan sebuah “pengorbanan” tiada tara yang Tuhan lakukan bagi umat-Nya., umat pilihan-Nya yang terkasih.

Melihat tangan dan kaki Tuhan yang dipaku, serta tombak yang ditancapkan dalam lambung-Nya, membuatku kembali membayangkan apa yang Ia telah korbankan bagi kita, sungguh tidak ada mampu kita pun membalas-Nya. Semua logika yang berpikir bahwa Ia adalah manusia, tetapi Ia adalah Tuhan, semua tidak akan masuk akal. Bagaimana mungkin Tuhan yang adalah penguasa dan pencipta seluruh alam raya dapat mati, dapat menjadi manusia, dan dapat disalib? Well, Ia adalah Tuhan. Ia mampu untuk melakukan apapun, termasuk menjadi manusia sekalipun dan tidak ada satu manusia pun yang mampu menghalangi-Nya, sebab Ia adalah Tuhan.

Kini, mulai perlahan aku memikirkan sebuah pertanyaan yang belum lama dilontarkan oleh salah seorang pendeta dalam khotbahnya, “Bagaimana kamu akan melanjutkan kehidupanmu setelah Kristus bangkit?” Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku setelah Paskah ini? Semua tergantung dariku, hanya aku pun kembali tersadar bahwa benar Ia sudah bangkit, bahwa Ia telah berkorban bagi kita, menggantikan kita, manusia berdosa yang sampai kapanpun tidak dapat menyelamatkan diri sendiri melalui sebanyak apapun perbuatan baik yang kita lakukan agar terhindar dari kuasa dosa dan maut. Kristus telah mati dan bangkit, sebuah karya penyelamatan manusia yang maha agung.

Selamat menghayati hidup dalam kebangkitan Kristus. Kristus telah bangkit, Ia hidup bagiku, kamu, dan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: