Blanco Coffee and Books

Yogyakarta sudah sangat terkenal dengan julukan sebagai kota pelajar. Berbagai kampus sudah sangat ‘menjamur’. Tidak heran bahwa pertumbuhan jumlah anak muda yang berdomisili di Yogya pun semakin tahun kian meningkat.

Seiring bertambahnya jumlah anak muda, dibarengi dengan perkembangan teknoogi yang kian pesat, menumbuhkan beberapa gaya hidup baru di kalangan anak mudanya. Nongkrong, adalah istilah yang semakin hits belakangan ini. Berbagai tempat nongkrong mulai bermunculan demi memenuhi ‘kebutuhan’ anak muda di Yogya. Beragam jenis tempat nongkrong tersedia di Yogya, mulai tempat nongkrong yang murah di pinggir jalan, sampai tempat nongkrong mewah di rooftop hotel ternama. Dari berbagai jenis tempat nongkrong yang ada di Yogya, cafe adalah salah satu tempat nongkrong favorit bagi anak muda Yogya.

Aku salah satu mahasiswa yang cukup menyukai cafe-cafe yang ada di Yogya. Kebanyakan cafe di Yogya memiliki konsep yang mirip satu dengan yang lainnya, konsep industrialis. Cat dinding yang dominan hitam, lampu kuning yang temaram, jendela-jendela kaca yang besar, mural, dan ornamen dari besi ataupun kayu rusty cukup banyak dan mudah untuk ditemui pada cafe-cafe di Yogya.

Akan tetapi, dari beberapa cafe yang pernah aku coba, aku tertarik pada satu cafe yang istimewa bagiku. Blanco coffee and book. Terletak di Jalan Kranggan, cafe Blanco memiliki letak yang sangat strategis, karena terletak dekat Tugu Yogya. Hal yang membuat cafe ini istimewa bagiku adalah konsep dari cafe ini sendiri. Berbeda dari beberapa cafe lainnya, Blanco menghadirkan cafe yang ramah pada pelajar. Dikatakan ramah pada pelajar karena interior cafe Blanco cocok bagi konsumen yang datang bukan hanya untuk nongkrong, tetapi juga untuk belajar.

blanco_kakek
mural orang tua yang menjadi center point dalam ruangan

Pemilihan furnitur berupa meja kayu berukuran cukup lebar yang dicat rusty, dipadupadankan dengan single wooden chair dari beberapa bentuk membuat ruangan tampak dinamis, tetapi tetap calm and soft. Sangat cocok bagi konsumen yang ingin mengerjakan tugas ataupun bersantai dengan membaca. Ruangan yang cukup terang dengan pemberian lampu kuning LED memberikan kesan hangat dalam ruangan ditambah sebuah mural bergambar orang tua yang menjadi center point dalam ruangan. Suasanan di dalam terasa semakin nyaman saat lagu-lagu bernada lembut diputar untuk menemani pelanggan yang sedang menikmati pesanannya. Blanco sendiri terbagi menajdi dua area, smoking area dan no smoking area.

blanco_interior#2
Suasana dalam Blanco

Rasa kopi di Blanco menurutku cukup berbeda. Aku tidak terlalu paham, namun rasanya enak dan pas di lidah. Tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis. Kebiasaanku adalah meminum kopi tanpa gula, apalagi kalau kopi tersebut bukan kopi hitam (single origin) dan rasa kopi Blanco menurutku pas. Jadi, apabila teman-teman bukan penikamt koppi, tetapi ingin mencoba kopi, aku cukup menyarankan untuk datang ke Blanco dan memesan hot frappuccino. Tekstur dari kopi di Blanco pun menurutku tidak terlalu encer. Waktu itu aku memesan frappuccino dan cappuccino. 

blanco_minibar
Mini bar dalam Blanco untuk meracik kopi

Sebagai cafe yang menyajikan menu utama berupa kopi, Blanco pun menempatkan mini dapurnya masih dalam satu ruangan dengan pelanggan. Pelanggan pun dapat melihat bagaimana barista meracik kopi pesanannya dan bagaimana aroma kopi dapat tersebar memenuhi ruangan, menyapa hidung para pelanggan yang hadir. Memang beberapa pengunjung mengatakan bahwa barista di Blanco good looking, and I’m agree with that. Well, itu adalah daya tarik tersendiri bagi Blanco.

blanco_interior
Rak buku yang menyediakan berbagai buku bacaan

Daya tarik Blanco bukan hanya dari baristanya saja, tetapi seperti aku bilang di awal, konsep. Jarang sekali cafe yang menawarkan konsep seperti Blanco. Selain dapat menikmati makanan dan minuman yang dijual, Blanco menyediakan beberapa buku yang boleh secara bebas dibaca di tempat. Aku pribadi sangat menyukai konsep tempat seperti ini. Bagaimana perpustakaan atau tempat baca dapat diaplikasikan di cafe sekalipun. Pilihan buku yang tersedia pun cukup beragam, seperti novel, buku kuliah dan biografi tokoh. Inilah yang menjadi daya tarik utama Blanco dan menjadikan Blanco berbeda dari cafe lainnya. Hal ini tentu baik bagi pelanggan yang datang sendiri, selain dapat mengerjakan tugas, bisa juga menghabiskan waktu dengan membaca.

Dari sisi harga, Blanco mematok harga berkisar mulai dari dua puluh ribu ke atas. Harga tersebut memang lebih mahal dibandingkan beberapa tempat yang pernah aku kunjungi, tetapi masih dalam standar normal harga cafe. Bagiku, untuk harga yang ditawarkan dengan fasilitas dan suasana yang didapat adalah hal yang sebanding atau bahkan worth it untuk dicoba.

Lokasi: Jalan Kranggan No.30, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233, Indonesia

Jam operasional: 07 am- 12.30 am

blanco_rute
sumber: google.com

Sumber gambar:

http://10tempatnongkrong.com/cafe-di-jogja/

http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2015/06/culinary-blanco-coffee-book.html

https://senengbangetmakan.wordpress.com/2015/12/16/seneng-banget-makan-di-blanco-coffee-books-jogjakarta/

http://lupiyatama.blogspot.co.id/2016/03/munch-time-blanco-coffee-book-when.html

https://www.tripadvisor.co.nz/LocationPhotoDirectLink-g294230-d8842504-i177673469-Blanco_Coffee_Books-Yogyakarta_Java.html

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: