Suatu Sabtu Malam

Mengingkari janji untuk keluar di Sabtu malam adalah hal yang beberapa kali aku lakukan bersama teman-temanku. Memutuskan untuk menghabiskan malam Minggu di kamar kosan adalah pilihan terbaik bagiku selama ini. Terhindar dari kemacetan jalanan, terhindar dari pandangan-pandangan orang pacaran di sepanjang jalan, sepertinya sudah cukup menjadi alasan yang kuat bagiku untuk memutuskan berikrar menghabiskan Sabtu malam di kamar kos.

Namun malam ini berbeda, bersama ketiga temanku, aku memutuskan untuk pergi keluar dan berjalan-jalan santai di Sabtu malam. Memang jalanan ramai, sama seperti Sabtu malam biasanya, tetapi aku tidak terlalu peduli untuk hal itu. Udara dingin sehabis hujan tidak mengurungkan niatku untuk menjelajah Jogja di malam ini, aku ingin keluar.

Menghabiskan waktu dengan singkat mengobrol hal-hal tak tentu di warung tenda kaki lima adalah hal yang memang selalu mengasyikkan bagiku. Bergosiip ria tentang pria-pria tampan di instagram, bergunjing tentang kabar-kabar terkini di lingkungan pertemanan, ah bahasan perempuan. Aku pun tertawa melepas penat yang selama ini menggelayut di benak, seakan tak mau lepas.Warung tenda semakin ramai dan aku pun beserta ketiga temanku memutuskan untuk pindah ke tempat yang sekiranya lebih kondusif untuk kembali berbincang.

Berputar-putar menemukan warung kopi yang sepi di Sabtu malam memang menjadi tantangan tersendiri. Hampir semua warung kopi ramai dengan pengunjung yang notabene adalah anak muda. Ya, warung kopi memang cukup menjadi primadona sebagai pilihan bersantai bersama teman di Sabtu malam, tidak heran akhirnya hampir semua warung kopi menjadi ramai oleh pengunjung, baik warung kopi lesehan sampai warung kopi yang berkonsep cafe.

Blackbone akhirnya menjadi destinasiku. Masih tetap bersama ketiga temanku, kami memilih tempat duduk di pojok ruangan berharap agar ketika kami membuat suatu ‘kegaduhan’, suara kami tidak terlalu megganggu pengunjung lainnya.

Suasana cafe malam itu tidak begitu ramai kata temanku dan aku pun hanya mengiyakan karena memang aku tidak terlalu paham kondisi sehari-hari di cafe ini seperti apa. Tidak terlalu besar dan tidak berbau dingin serta aroma asap rokok yang samar-samar menjadi kesan pertama ketika aku membuka pintu cafe. “Selamat datang!” terdengar suara pelayanan cafe menyapa nyaring dari sudut ruangan yang ternyata adalah meja pesan dan kasir.

Hot cappucino, royal choco, chocolate cheerful, dan jus strawberry less sugar adalah menu pesanan yang kami pesan untuk menemani waktu mengobrol. Sesekali aku bercelotah, alu ditimpali oleh tertawaan temanku dan begitupun terjadi kebalikannya. Ya, aku kembali tertawa dan kami bahagia. Entah apa faedah obrolanku dan mereka, tetapi kami tertawa lepas. Sesekali kami bermain gadget kami masing-masing, tetapi kembali perhatian kami teralihkan oleh keadaan kami bahwa kami berada dalam meja yang sama.

Malam semakin larut dan mata pun mulai mengantuk. Aku tahu bahwa esok adalah hari Minggu dan beberapa temanku harus beribadah maka aku pun memutuskan untuk pulang yang kemudian diikuti dengan anggukan pertanda setuju oleh temanku lainnya. Udara di luar cafe memang dingin dan membekukan, tetapi aku tetap merasa hangat di antara teman-temanku.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: