See You Soon Oma

Hidup manusia memang tidak pernah ada yang tahu kecuali Sang Pemilik hidup sendiri. Mungkin pada tulisan ku di minggu ini, aku tidak membahas tentang pengalaman kerja praktikku dulu karena aku dan keluargaku sedang mengalami kedukaan. Pada hari Sabtu (22/01/2017) sekitar pukul setengah dua belas dini hari, omaku dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Oma meninggal di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta dan ditemani oleh kedua anak wanitanya, yakni ibuku dan tanteku. Sebenarnya kalau dibilang kepergian oma terjadi secara mendadak, tidak juga, karena beliau memang sudah lama mengidap komplikasi penyakit dalam dan apabila beliau tetap hidup, boleh dibilang bahwa beliau hidup dengan berjuang melawan penyakitnya dan  kondisi tersebut tidak jauh lebih baik dibanding dengan kepergiannya bertemu dengan-Nya. Mungkin hal itulah yang membuat keluargaku (ayah-ibu-adik) merasa lega melepas  kepergian oma ke peristirahatan terakhirnya. Biar bagaimanapun, oma sudah tenang bersama suami, anak pertamanya, dan kakak-adiknya di surga.

Kepergian oma untuk selama-lamanya memang telah membuat duka bagi diriku pribadi, pasalnya aku belum sempat menjenguk beliau saat dirawat inap di rumah sakit. Berdomisili di Yogyakarta, membuat diriku tidak pernah sempat menjenguk oma ketika beliau drop dan harus dirawat di rumah sakit. Aku hanya mendapat kabar dari keluargaku yang di Bekasi bahwa oma sedang dirawat dan mohon doa dariku. Ya. Selama ini hanya doa yang dapat aku naikkan untuk omaku tercinta.

Masih segar dalam ingatku kala pertama aku mendapat kabar bahwa oma harus manjalani rawat inap pertama kalinya setelah berbelas-belas tahun tidak pernah menjalani rawat inap. Keberadaanku yang masih baru beberapa bulan di Jogja, membuatku sedih dan ketakutan yang amat sangat. Aku ingin rasanya pulang dan menjenguk oma. Aku panik. Aku takut oma meninggal! Beruntung ada temanku yang dengan setia membuatku tenang kala kabar buruk itu menimpaku. Namun, semakin lama akhirnya aku menjadi semakin kuat ketika aku mendapat kabar bahwa oma harus kembali menjalani rawat inap. Aku percaya bahwa pertolongan Tuhan akan menguatkan oma dan apapun yang oma harus hadapi adalah rencana Tuhan.

Bersyukur bahwa oma selalu sehat ketika aku pulang ke Bekasi. Aku selalu menemui oma di rumahnya dan sedikit mengobrol mengenai berbagai hal yang menarik baginya untuk sekadar menemani waktu istirahatnya di siang hari agar tidak terlalu sepi di rumah. Kondisi tubuhnya yang tidak lagi gemuk membuatku seperti bertemu dengan orang lain, oma sangat berbeda. Aku paham bahwa di hari tuanya, oma masih harus memikirkan beberapa hal dalam hidupnya, walaupun harusnya beliau sebenarnya tidak perlu memikirkannya. Itulah hal yang membuatku lega kala oma harus dipanggil oleh-Nya. Bukan aku senang, tetapi aku tahu bahwa oma akan merasa lebih tenang dan senang bila bersama-Nya. Satu hal yang mungkin masih menjadi penyesalan dalam hidupku adalah, aku belum sempat menjenguk oma saat berada di rumah sakit. Aku berencana untuk menjenguk oma di hari Minggu, namun Tuhan berkehendak lain, aku menjenguk oma bukan di rumah sakit, melainkan di rumah duka.

Oma sempat memberitahuku akan kepergiannya di hari itu. Itulah hal yang aku yakini dan aku bersyukur bahwa oma tidak melupakanku sebagai cucunya. Mulai dari perasaan gelisah seharian yang membuntutiku di hari Sabtu, keinginanku tiba-tiba untuk mengganti pakaian serba hitam saat hendak pergi bersama temanku adalah hal yang aku pandang sebagai “pertanda” dari oma untukku.

“Ra, kok aku pakai serba hitam? Kayak orang mau layatan aja. Layat siapa coba?” ucapku dalam hati ketika berkaca.Siapa sangka, baju itu menjadi baju yang kupakai untuk layatan oma.

“Ma, oma gimana keadaannya?”

“Stabil kok.”

“Puji Tuhan deh, Ma. Mama sekarang istirahat.”

(“Kok perasaan Tara nggak enak ya?”) Pesan yang tidak jadi kukirim.

Pesan pendek yang aku kirimkan pada mama ketika aku merasa seharian gelisah, tidak lama aku mendapat pesan kepulangan oma ke Rumah Bapa.

Kini oma telah tiada. Oma telah meninggalkan berbagai kesan yang sangat istimewa bagiku dan seluruh keluarga. Sikapnya yang apa adanya, hobinya dalam memasak, kecantikannya yang membuatnnya menjadi primadona di masa mudanya, serta kisah-kisah menarik lainnya  adalah hal-hal yang tidak akan pernah mungkin aku lupakan. Satu hal yang aku pelajari dari sebuah kepergian adalah tentang penyesalan. Apabila kita telah berbuat semua yang terbaik dan menyayangi siapapun dengan setulus hati maka ketika kelak orang tersebut telah tiada, setidaknya kita telah berbuat sebaik yang dapat kita lakukan dan penyesalan tersebut tidak perlu ditangisi dan disesali lagi. Karena setiap yang pergi, setiap yang hilang tidak selamanya dapat kembali. Karena kesempatan kedua tidak selamanya ada. Selamat meyayangi sesama dan perbuatlah yang terbaik pada mereka seperti untuk Tuhan. Selamat jalan Oma!

Untukmu yang tercinta, Felice Genoveva Andries (1950-2017)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: