Balada KP #3 (Panggung Jalanan)

Selamat malam teman-teman. Kini sudah masuk akhir pekan di minggu kedua, itu artinya sudah waktunya bagiku untuk kembali menuliskan kisah KP ku selama seminggu ke belakang. Aku seharusnya menuliskan kisah ini kemarin atau tadi pagi, tetapi karena aku lupa membawa pulang charger laptopku (Si Adhi) maka pada Sabtu pagi aku memutuskan untuk kembali ke pabrik untuk mengambil charger yang tertinggal ini. Apabila teman-teman tahu jarak antara rumahku dengan lokasi KP ku memang tidak terlalu dekat, Bekasi-Pasar Rebo, tapi aku rela kembali demi sebuah charger laptop. Mengapa aku tidak menunggu sampai hari Senin tiba? Kawan… kehidupanku cukup bergantung dengan Si Adhi akhir-akhir ini. Baik, cukup dengan balada ketinggalan charger laptop.

Sepeti yang temann-teman sudah tahu pada cerita sebelumnya bahwa aku menggunakan bus kota untuk menuju tempat kerjaku dari Bekasi, tepatnya Patas 9B atau Patas 9BT. Bus ini pengoperasiannya dikelola oleh sebuah jasa transportasi yang sudah berpengalaman dan melanglang buana jauh sebelum Transjakarta di-release oleh pemerintah DKI Jakarta, ialah PT MAYASARI BAKTI. Bagi teman-teman yang berasal dari JABODETABEK tentunya tidak asing dengan nama perusahaan transportasi tersebut, pasalnya perushaan transportasi tersebut sudah sangat bejasa untuk menghantarkan beribu bahkan berjuta masyarakat untuk bolak-balik menuju tempat kerjanya di Jakarta. Bus kota  memang telah menjadi moda transportasi yang cukup diandalkan oleh masyakat JABODETABEK dari sejak dulu, selain KRL, untuk mendukung perjalannya menuju Jakarta karena mobilitasnya yang  mudah dijumpai  dan harganya pun yang cukup terjangkau.

Bagi pengguna jasa  bus kota, pasti ada banyak hal-hal atau kejadian yang unik, menarik, menyebalkan ataupun  hal yang tidak terduga pada setiap harinya. Kejadian-kejadian yang terkadang memberikan pembelajaran hidup agar menjadi makhluk yang lebih baik. Hal itulah yang aku rasakan selama ini sebagai pengguna setia jasa transportasi bus umum. Melalui bus umum, aku belajar bahwa setiap manusia memang memiliki watak atau sifat yang berbeda dan dapat berkumpul dalam satu bus yang sama. Bagaimana seseorang dapat begitu egois terhadap penumpang lainnya tentang berbagi tempat duduk, bagaimana seseorang dapat begitu malas untuk turun di halte ataupun bus stop karena malas berjalan menuju lokas tujuannya, dan bagaimana penumpang dapat membuang sampah seenaknya melalui jendela bus di jalan tol tanpa mempedulikan kebersihan lingkungan.

Namun selain hal-hal kurang baik tersebut, aku juga dapat tahu bagaimana rasanya ketika aku ditolong oleh seorang ibu-ibu yang dengan ramah memberikanku sebuah karet gelang sebagai penahan tali jam tanganku agar tidak lepas, bagaimana aku bertemu dengan penumpang yang mengambilkan jepit rambutku yang terjatuh, bagaimana aku melihat raut wajah lelah  puluhan penumpang yang tertidur di dalam bus, bagaimana aku melihat ikhlasnya bapak kondektur yang membiarkan penumpangnya tidak membayar ongkos karena tidak memiliki kembalian yang cukup.

Selain penumpang, supir, dan kondektur, ada pula pedangan asongan dan pengamen yang berseliweran menjajakan barang dagangan dan suara mereka demi memperoleh beberapa rupiah dari penumpang. Beberapa di antara kita, mungkin ada yang merasa risih apabila ada pengamen di dalam bus umum karena dianggap mengganggu ketenangan di dalam bus. Memang aku akui bahwa terkadang pengamen memang suka datang di saat yang kurang atau bahkan tidak tepat. Saat penumpang sedang penuh sesak, kehadiran pengamen sangat mengganggu terutama pada waktu jam orang-orang pulang kerja. Penumpang yang super duper lelah sehabis bekerja seharian, ditambah bus yang penuh penumpang, dan jalanan yang macet akan merasa terganggu apabila harus ditambah dengan suara pengamen yang terkadang terdengar sumbang dan ala kadarnya.

Aku memang pernah mengalaminya, merasa risih dengan kedatangan pengemen tetapi bukan berarti aku membenci kehadiran pengamen dalam bus kota. Pengamen dan bus kota adalah dua hal yang sulit dipisahkan dan begitulah sepertinya hakikatnya. Beberapa pengamen juga pernah menampilkan penampilan yang menghibur dan aku tidak segan-segan untuk memberikan beberapa uangku sebagai apresiasi penampilannya. Bus kota memang telah menjadi panggung berjalan yang menjajakan hiburan kesenian masyarakat jalanan. Berbekal keberanian, kreativitas, dan alat musik, berbagai ragam seni hiburan telah tersaji di atas lantai bus yang berjalan ditengah hiruk-pikuknya jalanan ibu kota.

Seni telah membuktikan bahwa pertunjukan dapat disampaikan dari atas panggung super big show sampai panggung berjalan di bus kota. Selamat menikmati pertunjukan jalanan dan biarlah bangku-bangku bus yang usang dan roda-roda bus yang berputar diatas aspal jalan tol menjadi saksi bisu kehadiran panggung jalanan tersebut. Biarlah panggung tersebut tetap berjalan dan menghibur setiap penikmatnya…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: