Terima Kasih Jogja

Kalau teman-teman pernah mendengar slogan “Jakarta keras”, harus aku akui bahwa, ya itu benar! Jakarta memang sekeras itu. Berpuluh ribu bahkan ratusan ribu orang datang ke Jakarta entah untuk mengadu nasib ataupun hanya sekadar melancong ke kota megapolitan ini. Orang-orang datang dari berbagi daerah di Indonesia bahkan dari berbagai negara di seluruh dunia menuju Jakarta yang menyebabkan kota ini memiliki jenis penduduk yang heterogen. Setiap kepala memiliki pandangan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, watak yang berbeda, dan kepentingan yang berbeda, tetapi tetap satu plat. Plat B!

Aku memang tidak tahu secara persis sesibuk dan sebesar apa tekanan orang bekerja di Jakarta, namun aku cukup mengerti sedikit tentang lelahnya bekerja di Jakarta. Sudah sekitar seminggu aku bekerja di Jakarta untuk mencari data laporan kerja praktik (tugas kuliah). Setiap hari aku harus bolak-balik Bekasi-Jakarta dengan kendaraan umum, bermacet-macet ria, berpanas-panas ria, dan banyak hal yang aku pelajari dari kehidupan di Jakarta. Entah mengapa, tetapi aku merasa perlu berterima kasih pada Yogyakarta yang sudah lumayan merubah tabiat ku selama ini menjadi pribadi yang lebih baik.

Senyum. Jakarta memang terkenal dengan biaya hidup yang tinggi oleh karena harga-harga bahan pokok dan gaya hidup yang serba mahal. Namun tahukan kita bahwa yang mahal di Jakarta tidak hanya barang, tetapi senyuman. Betapa mahalnya sebuah senyum di kota ini! Lebih mahal dari sekilo emas batangan? Mungkin kurasa.Kebanyakan orang-orang yang kutemui menunjukkan raut wajah yang ditekuk dan menyeramkan. Bagi beberapa wanita menggunakan masker menjadi jurus jitu untuk menutup wajahnya yang entah tidak mau terkena debu atau malas tersenyum pada orang-orang di sekitarnya.

Cuek. Ketidakpedulian antara orang satu dengan lainnya adalah hal yang sudah sangat common untuk dijumpai di Jakarta. Hampir sebagian besar orang yang kujumpai di jalan hanya fokus terhadap layar smartphone-nya tanpa peduli akan apa yang sedang terjadi disekitarnya, sampai di dalam sebuah bus yang padat, tidak ada satu pun penumpang yang mau memberikan tempat duduk pada salah satu penumpang wanita yang sedang hamil. Aku paham bahwa kita lelah bekerja, namun apakah sebegitu lelah sampai tidak mau berkorban bagi wanita yang sedang membawa kehidupan di dalam tubuhnya?

Kotor. Berapa tahun kita sekolah? Berapa tinggi jenjang pendidikan kita? Berapa banyak gelar yang kita terima? Tidak peduli secerdas apapun diri kita, tetapi kalau masih buang sampah sembarangan di tempat umum maka sia-sialah ilmu yang kita miliki.

Aku memang besar di Kota Bekasi yang memiliki warna kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Warna kehidupan yang seperti itu adalah hal yang sehari-hari sebenarnya sudah amat sering aku jumpai selama aku di Bekasi dan tidak dipungkiri bahwa dahulu aku salah satu orang-orang yang melakukan ketiga hal di atas. Entah apa sebenarnya yang menyebabkan kehidupan di kota-kota lingkup JABODETABEK memiliki warna kehidupan yang cukup individualis. Sungguh amat berbeda dengan warna kehidupan di Yogyakarta, tempat perantauanku.

Yogyakarta memang telah merubah sebagian besar diriku. Senyum adalah hal yang sangat sulit aku berikan pada orang-orang yang tidak aku kenal. Bagiku, aku tidak perlu tersenyum pada mereka yang tidak aku kenal, namun hal itu berubah saat di suatu pagi di Jogja aku mendapat senyum dari orang yang tidak aku kenal dalam perjalanan menuju kampus. Entah, tetapi saat senyuman itu kudapatkan, ada sebuah semangat keceriaan dalam diriku dan sedikit keheranan yang amat besar karena aku tidak pernah mengalami hal itu saat berada di Bekasi. Oleh sebab itu, aku pun belajar untuk memberi senyum pada orang-orang di sekitarku terutama saat aku melaksanakan kerja praktik saat ini. Hal ini karena memang banyak sekali pekerja yang memiliki wajah murung atau jutek, tetapi ketika ditegur atau disapa, mereka kemudian tersenyum bahkan membalas salam lebih ramah. Aku harap bahwa setiap senyuman yang aku berikan pada siapapun orang-orang di sekitarku semoga akan membawa berkat tersendiri bagi mereka.

Belajar berbagi dan berkorban adalah hal yang aku pelajari di Yogyakarta. Menjalani hidup yang sederhana dan tidak egois adalah sebuah nilai yang Jogja kenalkan dalam diriku. Sesederhana mempersilakan wanita hamil untuk duduk di kursiku, aku belajar berkorban. Lelah memang, pegal memang setelah seharian bekerja, tetapi hal tersebut tidak sebanding dengan perjuangan wanita yang sedang membawa kehidupan di dalam tubuhnya. Memiliki empati menjadi penting dalam hidup di tengah masyarakat. Seandainya aku yang menjadi wanita itu, aku juga pasti ingin duduk!

Ingat mengapa Jakarta banjir? Karena begitu banyak masyarakat yang masih membuang sampah seenaknya sendiri. Tidak perlu men-judge bahwa oknum pembuang sampah adalah warga pinggiran yang berpendidikan rendah. Haha. Jangan senaif itu teman! Beberapa hari lalu aku meminta seorang ibu (terlihat berpendidikan) untuk membuang sampahnya di dalam kantong sampah plastikku agar beliau tidak membuang sampah di dalam kendaraan umum. Akhirnya si ibu pun meminta maaf padaku karena telah membuang sampah sembarangan. Memang, tidak peduli sebanyak apapun hartamu, setinggi apapun jabatanmu, sebanyak apapun gelarmu, kalau masih buang sampah sembarangan, semua sia-sia.

Oleh sebab itu, penting bagi masing-masing dari kita untuk melihat ke dalam diri kita tentang bagaimana kita bersikap dan menyikapi sesama kita dalam lingkungan, baik lingkungan masyarakat maupun lingkungan alam. Jadilah terang, jadilah garam, jadilah lilin, dan biarkan kita menjadi surat yang dibaca baik oleh sekitar kita. Selamat menjadu berkat dan agen perubahan! Terima kasih Jogja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: