Untukmu yang Terbiasa Ditolak

Anette berjalan menuju kamar kosannya dengan langkah yang lunglai. Matanya yang berkaca-kaca, mengandung jutaan liter air mata yang siap membanjir dan menerjang kulit pipinya setibanya di kamar kelak.

Hari itu bukan menjadi hari yang indah bagi Anette. Ia harus berpapasan dengan mantan pacarnya yang sudah menggandeng pasangan barunya. Ingin rasanya Anette berlari untuk menghindar, tapi saat itu suasana lorong kampus sangat sepi dan tidak mungkin lari menghidar atau Anette akan dikira pengecut. Tiga tahun semenjak perpisahan yang tidak diinginkan olehnya berlalu dan Anette masih saja sendiri. Bukan karena Anette tidak membuka diri, hanya hatinya masih terlalu lembek untuk kembali memulai sesuatu cerita yang disebut orang-orang “cinta”.

“Hai Net!”

“Oh hai Vis.” jawab Anette kikuk sambil menunjukkan senyum simpul.

“Kamu kelas apa?” tanya Avis sambil menggenggam tangan Fanya.

“Oh enggak, aku mau ke kantin. Nanti kelas lagi jam 1. Hai Fan. Oh ya, aku duluan ya. Buru-buru. See ya…” Anette berlalu dengan cepat.

Hanya beberapa detik sampai perjumpaan itu bak mata pisau yang menusuk jantung Anette dengan menggila.

Move on, kata yang berjuta-juta kali Anette dengar dari berjuta-juta temannya yang mengetahui hubungannya yang kandas. Bermacam cara sudah ia lakukan untuk move on, namun apa daya kalau memang hati ini masih milik si busuk itu. Oh iya, busuk adalah panggilan Anette bagi mantannya itu. Bukan busuk karena sifatnya ataupun sikapnya, tetapi karena busuk sudah membuat Anette tiga tahun feeling stuck with him.

Di dalam kamar, Anette segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kesayangannya. Masih dengan make up yang menempel, air mata mulai mengalir perlahan tapi pasti membasahi pipinya. Entah kali keberapa ia menangis untuk mantan kekasihnya itu yang bahkan kini sudah bahagia dengan wanita lain. Bodoh memang pikir Anette.

“Aku hanya ingin bisa rela melepasnya…”

1368144681_fdceb2990f_z

Waktu berlalu dan Anette kini kembali disibukkan dengan berbagai kegiatannya di luar kampus dan kuliahnya. Berbagai kegiatan sosial ia lakoni demi menambah kegiatan, pengalaman, dan menghindari dirinya dari waktu kosong. Waktu kosong hanya akan membawanya kembali untuk mengingat Avis dan itu tidak sama sekali berguna baginya. Banyak teman baru yang Anette temui dalam berbagai kegiatannya, tapi tetap saja, tidak ada yang dapat menyentuh hati Anette sedikitpun, sampai ketika seseorang datang.

“Hai Anette, ini kamu tolong besok kamu temani aku survey tempat untuk acara kita.”

“Loh, besok? Jam berapa Ben? Aku ada bimbingan sama dosen soalnya dari siang jam 1. Mungkin selesainya ya sore.”

“Oh enggak masalah, aku rencananya mau ke tempatnya malam kok. Jam setengah tujuh bisa?”

“Oke siap!”

Beni adalah satu-satunya sosok pria yang dapat membuat Anette berani membuka hatinya setelah kepergian Avis. Sosoknya yang sederhana dan simpel mampu membuat Anette merasa nyaman berteman dengannya. Bahkan setelah Anette mengenal sosok Beni lebih dekat setelah peristiwa survey bersama, Anette semakin nyaman bersama Beni. Beni adalah sosok yang tepat untuk menggantikan Avis. Beni tidak pernah terlalu banyak berkomentar untuk hal-hal aneh yang dilakukan Anette saat mereka pergi bersama. Beni adalah sosok yang cerdas, sopan, ramah, dan menyenangkan, terlebih Beni adalah tipe pekerja keras dan pantang menyerah untuk mencapai apa yang menjadi cita-citanya.

“Ben, besok tolong temani aku pergi ke toko buku sebentar, bisa?”

“Sebentar. Jam berapa?”

“Mungkin sore, sekitar jam 5. Gimana?”

“Hmm… oke bisa.”

“Kamu mau pergi ya? Aku ganggu?”

“Oh bukan. Aku ada janji untuk futsal sama teman-teman malamnya.”

Ben adalah semacam anugerah dari Tuhan yang Anette rasakan dalam hidupnya. Tapi, entah mengapa anugerah itu perlahan menjauh. Ben mulai berubah dan Anette merasakannya. Tidak ada yang dapat Anette lakukan kecuali menerima fakta bahwa Beni adalah temannya dan Anette tidak berhak mengganggu apapun dalam hidupnya. Namun, Beni kini telah berbeda. Sosok yang Anette pikir tepat untuk menggantikan Avis perlahan pergi dan Anette masih terpaku menatap kepergiannya. Sungguh tidak ada yang dapat Anette lakukan kecuali kembali menangis dan menata hatinya untuk kembali mengosongkan perasaannya pada siapapun yang ia temui. Bangkit dan berkreasi lagi dengan lebih sibuk.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: